“RENCANA OPERASIONAL DAN PROSEDUR PENGENDALIAN MUTU USAHA PRODUKSI SABUN HERBAL ALAMI”
Oleh: Cut Kinanthi Khanza Ardya Rosi (AE48)
“RENCANA OPERASIONAL DAN PROSEDUR PENGENDALIAN MUTU USAHA PRODUKSI SABUN HERBAL ALAMI”
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Industri produk perawatan tubuh mengalami pertumbuhan
yang pesat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan kulit,
keamanan produk, dan isu keberlanjutan lingkungan. Konsumen mulai menghindari
produk berbahan kimia sintetis yang berpotensi menimbulkan iritasi kulit serta
dampak lingkungan jangka panjang. Kondisi ini mendorong peningkatan permintaan
terhadap produk berbahan alami, salah satunya sabun herbal.
Sabun herbal merupakan produk yang diformulasikan dari
minyak nabati dan ekstrak tumbuhan yang memiliki manfaat bagi kesehatan kulit.
Namun, tingginya persaingan pasar menuntut pelaku usaha untuk tidak hanya
menawarkan produk alami, tetapi juga menjamin kualitas yang konsisten. Oleh
karena itu, diperlukan perencanaan operasional yang sistematis serta prosedur
pengendalian mutu yang terstandar agar proses produksi berjalan efisien, aman,
dan menghasilkan produk berkualitas.
1.2 Tujuan Penyusunan Dokumen
Penyusunan dokumen ini bertujuan untuk:
- Menyusun rencana operasional usaha sabun herbal
secara terstruktur dan realistis.
- Merancang sistem pengendalian mutu yang mampu
mencegah dan mengurangi cacat produk.
- Menerapkan prinsip manajemen produksi dan
manajemen mutu sebagai dasar pengambilan keputusan operasional.
- Menjadi pedoman kerja bagi seluruh pihak yang
terlibat dalam proses produksi.
1.3 Gambaran Umum Usaha
Usaha sabun herbal alami merupakan usaha produksi
skala kecil hingga menengah yang memproduksi sabun mandi padat berbahan alami.
Target pasar usaha ini adalah konsumen usia 18–45 tahun yang peduli terhadap
kesehatan kulit, keamanan produk, dan kelestarian lingkungan. Produk dipasarkan
melalui penjualan langsung dan platform digital.
2. Deskripsi Produk dan Proses Produksi
2.1 Deskripsi Produk
Produk yang dihasilkan adalah sabun mandi herbal padat
dengan berat ±80 gram per batang. Bahan utama yang digunakan meliputi minyak
kelapa, minyak zaitun, dan ekstrak herbal alami seperti lidah buaya dan daun
sirih. Produk ini tidak menggunakan deterjen sintetis dan pewarna buatan.
Karakteristik utama produk:
- Tekstur padat dan tidak mudah rapuh
- Aroma alami dari ekstrak herbal
- Aman digunakan untuk kulit sensitif
2.2 Proses Produksi
Proses produksi sabun herbal dilakukan secara bertahap
sebagai berikut:
- Penimbangan bahan baku,
dilakukan sesuai formulasi standar untuk menjaga konsistensi produk.
- Pencampuran minyak nabati dan larutan alkali,
menggunakan mixer stainless steel hingga homogen.
- Penambahan ekstrak herbal,
dilakukan pada suhu tertentu agar kandungan aktif tidak rusak.
- Pengadukan lanjutan,
hingga adonan mencapai konsistensi yang diinginkan.
- Pencetakan, adonan dituangkan ke
dalam cetakan sabun.
- Curing, proses pengeringan alami selama ±14 hari.
- Pemotongan, sabun dipotong sesuai
ukuran standar.
- Pengemasan, produk dikemas dan
diberi label.
3. Perencanaan Kapasitas dan Jadwal Produksi
Perencanaan kapasitas produksi ditentukan berdasarkan
permintaan pasar, kemampuan tenaga kerja, dan kapasitas peralatan. Kapasitas
produksi ditetapkan sebesar 500 batang sabun per minggu.
Tabel 1. Jadwal Produksi Mingguan
|
Hari |
Aktivitas Produksi |
||
|
Senin |
Persiapan &
penimbangan bahan |
||
|
Selasa |
Pencampuran &
pencetakan |
||
|
Rabu |
|
||
|
Kamis |
|
||
|
Jumat |
|
||
|
Sabtu |
|
Perencanaan jadwal ini bertujuan untuk mengoptimalkan
penggunaan sumber daya dan meminimalkan waktu menganggur.
4. Alokasi Sumber Daya
4.1 Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah:
- 1 Supervisor Produksi: bertanggung jawab atas
keseluruhan proses produksi.
- 2 Operator Produksi: melaksanakan proses
pencampuran, pencetakan, dan pengemasan.
- 1 Staf Quality Control: melakukan inspeksi dan
pencatatan mutu.
4.2 Bahan Baku
Bahan baku utama meliputi minyak kelapa, minyak
zaitun, NaOH, ekstrak herbal, dan bahan kemasan. Seluruh bahan baku diperoleh
dari pemasok yang telah diseleksi.
4.3 Peralatan Produksi
Peralatan utama terdiri dari timbangan digital, mixer
stainless steel, cetakan sabun, rak curing, alat potong, dan alat ukur pH.
5. Layout Fasilitas dan Alur Kerja
Layout fasilitas produksi dirancang berdasarkan
prinsip alur satu arah (one-way flow). Area produksi terdiri dari:
- Area penyimpanan bahan baku
- Area pencampuran
- Area curing
- Area pemotongan dan pengemasan
Alur kerja yang terstruktur bertujuan mengurangi
risiko kontaminasi dan meningkatkan efisiensi proses.
6. Estimasi Biaya Operasional dan Waktu Siklus
Produksi
6.1 Estimasi Biaya Operasional Bulanan
|
Komponen Biaya |
Estimasi (Rp) |
|
Bahan baku |
6.000.000 |
|
Tenaga kerja |
4.000.000 |
|
Utilitas & overhead |
2.000.000 |
|
Total |
12.000.000 |
6.2 Waktu Siklus Produksi
Waktu siklus produksi total adalah ±15 hari, mencakup
proses pencampuran hingga curing dan pengemasan.
7. Prosedur Pengendalian Mutu
7.1 Standar Kualitas Produk
Standar mutu ditetapkan sebagai berikut:
- Visual: bentuk rapi, warna seragam, tidak retak
- Fungsional: menghasilkan busa yang cukup dan
tidak menimbulkan iritasi
- Keamanan: pH produk berada pada rentang 8–10
7.2 Tahapan Inspeksi dan Metode Pengujian
Inspeksi mutu dilakukan pada:
- Bahan baku: inspeksi visual dan tanggal
kedaluwarsa
- Proses produksi: pengamatan konsistensi adonan
- Produk jadi: uji pH dan inspeksi visual
7.3 Sistem Pencatatan dan Pelaporan Cacat
Setiap temuan cacat dicatat dalam formulir inspeksi
mutu yang mencakup jenis cacat, jumlah produk cacat, dan tindakan yang diambil.
8. Tindakan Korektif dan Preventif
Tindakan korektif dilakukan dengan menarik produk
cacat dari proses distribusi dan melakukan evaluasi penyebab cacat. Tindakan
preventif dilakukan melalui pelatihan rutin karyawan dan pembaruan SOP
produksi.
9. Pendekatan Manajemen Mutu
Sistem mutu usaha ini menerapkan siklus PDCA
(Plan–Do–Check–Act). Selain itu, prinsip Kaizen diterapkan untuk mendorong
perbaikan berkelanjutan dalam proses produksi dan pengendalian mutu.
10. Visualisasi Pendukung
10.1 Tabel Jadwal Produksi
Tabel 2. Jadwal Produksi Sabun Herbal (Mingguan)
|
Hari |
Waktu |
Aktivitas |
Penanggung Jawab |
|
Senin |
08.00–12.00 |
Penimbangan & persiapan bahan baku |
Operator Produksi |
|
Selasa |
08.00–15.00 |
Pencampuran & pencetakan sabun |
Operator Produksi |
|
Rabu |
08.00–16.00 |
Proses curing (hari ke-1) |
Supervisor |
|
Kamis |
08.00–16.00 |
Proses curing (hari ke-2) |
Supervisor |
|
Jumat |
08.00–16.00 |
Proses curing (hari ke-3) |
Supervisor |
|
Sabtu |
08.00–14.00 |
Pemotongan & pengemasan |
Operator & QC |
Tabel ini digunakan untuk memastikan aktivitas
produksi berjalan sesuai waktu dan kapasitas yang direncanakan.
10.2 Diagram Alur Proses Produksi
Diagram alur proses produksi sabun herbal adalah
sebagai berikut:
Bahan Baku → Penimbangan → Pencampuran → Penambahan Ekstrak Herbal → Pencetakan
→ Curing → Pemotongan
→ Pengemasan
→ Produk
Jadi
Diagram ini menunjukkan alur produksi satu arah untuk
menghindari kontaminasi silang dan meningkatkan efisiensi kerja.
10.3 Formulir Inspeksi Mutu
Formulir Inspeksi Mutu Harian
|
Tanggal |
Tahap Produksi |
Jenis Inspeksi |
Hasil (OK/NG) |
Jenis Cacat |
Tindakan |
|
Bahan baku |
Visual |
||||
|
Proses produksi |
Konsistensi adonan |
||||
|
Produk jadi |
Uji pH |
Formulir ini digunakan oleh staf QC untuk mencatat
hasil inspeksi dan sebagai dasar evaluasi mutu.
10.4 Layout Fasilitas Produksi (Sketsa Sederhana)
Sketsa layout fasilitas produksi dirancang sebagai
berikut:
[ Gudang Bahan Baku ] → [ Area Pencampuran ] → [ Area
Curing ] → [ Area Pemotongan & Pengemasan ] → [ Gudang Produk Jadi ]
Layout ini menerapkan prinsip alur satu arah untuk
menjaga kebersihan, keamanan, dan efisiensi proses produksi.
11. Penutup
Dokumen rencana operasional dan prosedur pengendalian
mutu ini dilengkapi dengan visualisasi pendukung untuk memperjelas perencanaan
operasional dan sistem pengendalian mutu. Dengan penerapan rencana ini,
diharapkan usaha sabun herbal alami dapat beroperasi secara efisien, konsisten,
dan menghasilkan produk berkualitas tinggi.
Daftar Pustaka
Heizer, J., Render, B., & Munson, C. (2020). Operations
Management. Pearson. Slack, N., Brandon-Jones, A., & Burgess, N.
(2022). Operations Management. Pearson. Pyzdek, T., & Keller, P.
(2018). The Six Sigma Handbook. McGraw-Hill. ISO 9001:2015 – Quality
Management Systems.
Komentar
Posting Komentar